Kesetimbangan KImia
1 . Identitas :
- Nama Guru : Desi Amalia, S. Pd, Gr.
- Mata Pelajaran : Kimia
- Kelas : XI A2,3,4,5
- Pertemuan : Minggu ke 1
Peserta didik diharapkan mampu:
|
KESETIMBANGAN
KIMIA
Apakah
yang ada didalam pikiran kalian ketika mendengar kata “Kesetimbangan”?
Mungkin
dibenak kalian tergambar sesuatu yang berhubungan dengan timbangan.
Memang
benar bahwa kata “Kesetimbangan” disini berhubungan dengan timbangan.
Coba
kalian perhatikan gambar dibawah ini! Pastilah kalian mengenal dan sering
menjumpainya dalam kehidupan sehari–hari.

Gambar
1. Timbangan
Ketika
sebuah timbangan dalam kondisi setimbang, maka jarum penunjuk timbangan dalam
posisi lurus dan diam, artinya bagian kiri dan bagian kanan menunjukkan massa
yang sama. Hal ini bisa menganalogikan
kondisi setimbang dalam ilmu kimia.
Istilah
kesetimbangan kimia menunjukkan bahwa laju reaksi ke arah kanan dan kiri
bernilai sama besar. Hanya saja
kesetimbangan kimia bersifat dinamis bukan statis atau diam layaknya timbangan
massa. Nah pada materi kali ini kita akan mengenal reaksi kesetimbangan dalam
reaksi kimia. Silahkan pelajari secara bertahap ya di buku ini!
1. Reaksi Kimia Reaksi kimia berdasarkan
sifat berlangsungnya dibedakan menjadi 2 yakni reaksi satu arah dan reaksi dua
arah. Berikut ini penjelasan dari reaksi-reaksi yang dimaksud
a. Reaksi Searah / Tidak Dapat Balik / Irreversible
Tentunya
kalian pernah melihat atau melakukan pembakaran kertas bukan? nah, apa yang
terjadi? ya benar sekali, kertas akan menghitam lalu menjadi abu. Apakah abu
bisa kembali lagi menjadi kertas? Tidak bisa ya. Reaksi pada pembakaran kertas
merupakan reaksi yang berlangsung searah atau reaksi yang tidak dapat balik
(reaksi irreversible).
Reaksi searah yaitu reaksi yang berlangsung dari arah reaktan ke produk atau.
ke kanan pada reaksi ini. Produk tidak dapat bereaksi kembali menjadi zat-zat asalnya.
Ciri-ciri
reaksi searah adalah:
1)
persamaan reaksi ditulis dengan satu anak panah
produk/kanan (→);
2)
reaksi akan berhenti setelah salah satu atau semua reaktan habis;
3)
produk tidak dapat terurai menjadi zat-zat reaktan; dan
4)
reaksi berlangsung tuntas/berkesudahan.
Contoh
reaksi searah: NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)
b. Reaksi Dua Arah/Dapat Balik/ReversibIe
Lalu,
pernahkah kalian memperhatikan air yang mendidih di dalam panci? Air yang
direbus melewati titik didihnya akan berubah menjadi uap. Kalau kita meletakkan
penutup di atas panci, uap tersebut akan terperangkap dan terkondensasi kembali
menjadi air. Nah ini adalah contoh reaksi dua arah atau yang dapat balik
(reaksi reversible).
Reaksi dua arah yaitu reaksi yang dapat berlangsung dari reaktan ke produk atau
ke kanan dan juga sebaliknya dari produk ke reaktan atau ke kiri.
Ciri-ciri
reaksi dua arah adalah:
1)
persamaan reaksi ditulis dengan dua anak panah dengan arah berlawanan (⇄)
2)
reaksi ke arah produk disebut reaksi maju, reaksi ke arah reaktan disebut
reaksi balik. Contoh reaksi dua arah:
1)
N2(g)+3H2(g) ⇄ 2 NH3(g)
2)
H2O(l) ⇄ H2O(g)
Apabila
reaksi dua arah berlangsung dalam ruang tertutup dan laju reaksi ke kanan sama
besar dengan laju reaksi ke kiri, reaksi dikatakan dalam keadaan setimbang.
Reaksinya disebut reaksi kesetimbangan. Dalam keadaan setimbang, jumlah reaktan
dan produk tidak harus sama, asalkan laju reaksi ke kiri dan ke kanan sama
besar.
2. Kesetimbangan Kimia Secara umum kesetimbangan
dalam reaksi kimia dapat dibagi menjadi dua, yaitu kesetimbangan statis dan
kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan statis terjadi ketika semua gaya yang
bekerja pada objek bersifat seimbang, yaitu tidak ada gaya yang dihasilkan.
Sementara itu, kesetimbangan dinamis diperoleh ketika semua gaya yang bekerja
pada objek bersifat seimbang, tapi objeknya sendiri bergerak.
Pada
persamaan reaksi kesetimbangan kimia setiap terjadi reaksi ke kanan, maka
zat-zat produk akan bertambah, sementara zat-zat reaktan berkurang. Sebaliknya,
reaksi juga dapat bergeser ke arah reaktan sehingga jumlah produk berkurang.
Akibatnya
terjadi lagi reaksi ke arah kanan. Demikian ini terjadi terus-menerus, sehingga
secara mikroskopis terjadi reaksi bolak-balik (dua arah) pada reaksi
kesetimbangan. Keadaan seperti ini dikatakan bahwa kesetimbangan bersifat
dinamis.
Keadaan
dinamis hanya terjadi dalam sistem tertutup.
Contoh
kesetimbangan dinamis dalam kehidupan sehari-hari yaitu proses pemanasan air
dalam wadah tertutup. Saat suhu mencapai 100°C air akan berubah menjadi uap dan
tertahan oleh tutup. Apabila pemanasan dihentikan, uap air yang terbentuk akan
berubah menjadi air kembali sehingga jumlah air di dalam wadah tidak akan
habis. Reaksi yang terjadi adalah H2O(l) ⇄ H2O(g). Reaksi ke kanan adaIah
reaksi penguapan sementara reaksi ke kiri adalah reaksi pengembunan. Lalu
bagaimana hubungannya dengan laju reaksi yang terjadi pada reaksi
kesetimbangan? Hal ini akan dijelaskan
melalui penjelasan berikut ini. Silahkan kalian cermati!
Hubungan
antara konsentrasi reaktan dengan produk, misalnya pada reaksi
kesetimbangan C(s) + H2O(g) ⇌
CO(g) + H2(g) dapat digambarkan dengan grafik berikut :

a. Kemungkinan
(a) terjadi pada saat kesetimbangan produk > konsentrasi reaktan.
Di
awal reaksi, konsentrasi reaktan maksimal, semakin lama semakin berkurang.
Saat
kesetimbangan tercapai konsentrasi reaktan tidak berubah, sementara konsentrasi
produk yang semula nol semakin lama semakin benambah hingga konstan pada saat
kesetimbangan.

b.
Kemungkinan (b) terjadi jika pada saat kesetimbangan konsentrasi produk <
konsentrasi reaktan. Namun tidak tertutup kemungkinan pada saat kesetimbangan
konsentrasi reaktan = konsentrasi produk.

c.
Kemungkinan (c) tercapai jika pada saat kesetimbangan V1 = V2.
Berdasarkan
penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya, maka kesetimbangan kimia
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) Reaksi berlangsung dua arah dan dalam
ruang tertutup. 2) Laju reaksi ke kiri dan ke kanan sama besar. 3) Tidak terjadi
perubahan makroskopis tetapi perubahan terjadi secara mikroskopis.
3. Jenis Reaksi Kesetimbangan Berdasarkan wujud zat-zat dalam keadaan setimbang, reaksi
kesetimbangan kimia dibedakan menjadi dua, yaitu kesetimbangan homogen dan
heterogen. Silahkan kalian cermati penjelasan berikut ini :
a.
Kesetimbangan Homogen Kesetimbangan homogen yaitu kesetimbangan kimia yang di
dalamnya terdapat satu wujud zat, misalnya gas atau larutan.
Contoh
:
N2 (g) + 3H2 (g) ⇄ 2NH3 (g)
2SO3 (g) ⇄ 2SO2 (g) + O2 (g)
2HCl
(g) + ½ O2 (g) ⇄ H2O (g) + Cl2 (g)
b.
Kesetimbangan Heterogen Kesetimbangan heterogen yaitu kesetimbangan kimia yang
di dalamnya terdapat berbagai macam wujud zat, misalnya gas, padat, cair dan
larutan.
Contoh
:
C
(s) + H2O (g) ⇄ CO
(g) + H2 (g)
2NaHCO3 (s) ⇄ Na2CO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
HCO- (aq) + H2O (l) ⇄ CO32- (aq) + H3O+ (aq)
Ag+(aq) + Fe2+(aq) ⇄ Ag
(s) + Fe3+(aq)
1.
Persamaan Tetapan Kesetimbangan Pada suhu tetap, dalam suatu reaksi
kesetimbangan terdapat hubungan antara konsentrasi pereaksi dengan konsentrasi
hasil reaksi terhadap tetapan kesetimbangan (K). Pada suatu kesetimbangan kimia
berlaku hukum kesetimbangan, seperti yang dikemukakan oleh Guldberg dan Waage.
”Dalam keadaan setimbang pada suhu tertentu, hasil kali konsentrasi hasil
reaksi dibagi hasil kali konsentrasi pereaksi yang ada dalam sistem
kesetimbangan yang masing-masing dipangkatkan dengan koefisiennya mempunyai
harga tetap.” Hasil bagi tersebut dinamakan tetapan kesetimbangan (K).
Tetapan
kesetimbangan (K) merupakan angka yang menunjukkan perbandingan secara
kuantitatif antara produk dengan reaktan. Secara umum reaksi kesetimbangan
dapat dituliskan sebagai berikut.
pA (g) + qB (g) ⇄ rC (g) + sD (g)
Saat
di dalam reaksi kesetimbangan dilakukan aksi, maka kesetimbangan akan bergeser
dan sekaligus mengubah komposisi zat-zat yang ada untuk kembali mencapai
kesetimbangan. Secara umum dapat dikatakan tetapan kesetimbangan merupakan
perbandingan hasil kali molaritas reaktan dengan hasil kali molaritas produk
yang masing-masing dipangkatkan dengan koefisiennya.

Keterangan
:
•
K = tetapan kesetimbangan
•
[A] = molaritas zat A .................................. (M)
•
[B] = molaritas zat B .................................. (M)
•
[C] = molaritas zat C ...................................(M)
•
[D] = molaritas zat D .................................. (M)
a.
Tetapan Kesetimbangan berdasarkan Konsentrasi (Kc) Penentuan nilai tetapan kesetimbangan berdasarkan
konsentrasi zat (Kc) yang terlibat dalam reaksi dihitung berdasarkan molaritas zatnya
(M). Untuk menghitung tetapan nilai kesetimbangan tersebut, kalian harus
memperhatikan fase atau wujud zat yang terdapat dalam reaksi yang akan
ditentukan nilai Kc-nya. Hal ini dikarenakan
nilai kesetimbangan konsentrasi (KC) hanya untuk fase gas (g) atau larutan (aq). Jika di dalam reaksi terdapat fase lain
selain kedua fase tersebut maka
fase
itu diabaikan. Untuk lebih jelasnya
kalian dapat mencermati pernjelasan berikut ini : 1) Semua fase senyawa dalam
wujud gas (Reaksi Homogen) Perhatikan reaksi berikut.

Dari
reaksi di atas lambang A dan B merupakan pereaksi, sedangkan lambang C dan D
merupakan hasil reaksi. Lalu pada a, b,
c dan d masing-masing merupakan koefisien reaksi pada A, B, C, dan D.
Harga
Kc
dapat dirumuskan seperti hukum kesetimbangan
dengan ketentuan sebagai berikut.
a)
Pada kesetimbangan, laju reaksi ke kanan ( r1) sama dengan laju reaksi ke kiri
(
r2) atau r1 = r2.
b)
Pada keadaan setimbang, reaksi dianggap stabil. Artinya orde reaksi sesuai
koefisien reaksinya, yatu: r1 = k1[A]a[B]b dan : r2
= k2[C]c[D]d
c)
Harga ![]()
Dari
ketentuan tersebut, diperoleh persamaan:
r1
= r2
k1[A]a[B]b =
k2[C]c[D]d

2)
Fase senyawa dalam reaksi bervariasi (Reaksi Heterogen)
pP(𝑔) +
qQ(s) ⇄ rR(ℓ) +
sS(aq)
Reaksi
di atas merupakan reaksi dengan fase bervariasi, dimana dalam reaksi terdapat
fase gas, cairan, larutan, dan padatan. Untuk kasus tersebut, tetapan
kesetimbangannya ditentukan hanya berdasarkan konsentrasi zat yang berfase gas
dan larutan saja karena zat yang berfase padat dan cair konsentrasinya dianggap
tetap.
Penulisan
notasi tetapan kesetimbangan (K) untuk reaksi tersebut sebagai berikut :
Maka

Oleh
karena [Q] dan [R] dianggap tetap, sehingga :

Perhatikan
Contoh Soal dan penyelesaian berikut.
Contoh Soal 1. Tuliskan harga Kc untuk :
a.
2 SO2(𝑔) + O2(𝑔) ⇄ 2 SO3(𝑔)
b. C(s) +
O2(𝑔) ⇄ 2CO(𝑔)
Jawab :

2.
Di dalam ruang tertutup yang volumenya 8 L pada suhu tertentu terdapat
kesetimbangan antara 0,7 mol gas hidrogen; 0,6 mol gas klor; dan 0,5 mol gas
HCl.
Berapakah
harga tetapan kesetimbangan pada keadaan tersebut?
Jawab : Reaksi yang terjadi: H2(𝑔) + Cl2(𝑔) ⇄ 2HCl (𝑔) Volume total = 8 L

3.
Gas SO3 (Ar S=32; Ar O = 16) sebanyak 160 gram dipanaskan dalam
wadah 1 liter sehingga terjadi dekomposisi termal:
2
SO3(𝑔) ⇔ 2 SO2(𝑔) + O2(𝑔)
Pada
saat perbandingan mol SO3 ∶
SO2 = 2 ∶
3
hitunglah:
(a) 𝛼 (derajat disosiasi)
(b) Kc

= 67,5 M
b.
Tetapan Kesetimbangan berdasarkan Tekanan Parsial (Kp) Penentuan nilai tetapan
kesetimbangan berdasarkan tekanan parsial (Kp) yang terlibat dalam reaksi
dihitung dari tekanan parsial zatnya (P). Untuk menghitung tetapan nilai
kesetimbangan tersebut, kalian harus memperhatikan fase atau wujud zat yang
terdapat dalam reaksi yang akan ditentukan nilai Kp-nya. Pada perhitungan nilai
kesetimbangan tekanan, fase yang dibutuhkan hanya fase gas (g). Jika di dalam
reaksi terdapat fase lain selain fase gas maka fase itu diabaikan. Untuk lebih jelasnya kalian dapat mencermati
pernjelasan berikut ini :

Dari
reaksi di atas, dapat diperhatikan jika semua fase dalam reaksi tersebut
merupakan fase gas sehingga semua zat digunakan dalam perhitungan menentukan
nilai Kp. Lambang A dan B merupakan pereaksi, sedangkan lambang C dan D
merupakan hasil reaksi. Lalu pada a, b,
c dan d masing-masing merupakan koefisien reaksi pada A, B, C, dan D. Dari ketentuan tersebut, diperoleh persamaan:

Keterangan
:
PA =
Tekanan Parsial Zat A
PB =
Tekanan Parsial Zat B
PC =
Tekanan Parsial Zat C
PD =
Tekanan Parsial Zat D
Nilai
tekanan (P) tiap zat dapat dihitung menurut perhitungan berikut ini :
Misalnya,
menghitung tekanan untuk zat A
![]()
Demikian
pula untuk reaksi yang melibatkan fase gas dan padatan, tetapan kesetimbangan
tekanan ditentukan hanya berdasarkan tekanan zat yang berfase gas juga. Oleh
karena itu, notasi tetapan kesetimbangannya ditulis sebagai berikut.
![]()
Oleh
karena (X) dianggap tetap, sehingga:

c.
Hubungan Persamaan Reaksi dengan Tetapan Kesetimbangan (K) Harga tetapan
kesetimbangan (K) beberapa reaksi kimia dapat dibandingkan satu sama lain. Bentuk
hubungan tersebut, jika ada suatu reaksi yang tetapan kesetimbangannya sama
dengan K, berlaku ketentuan sebagai berikut :
Misalkan
reaksi berikut :
![]()
1)
Reaksi yang berkebalikan, tetapan kesetimbangannya 1/𝐾
2)
Reaksi yang merupakan x kali dari reaksii
tersebut, tetapan kesetimbangannya Kx .
3)
Jika suatu reaksi merupakan pembagian sebesar x
dari reaksi maka tetapan kesetimbangannya ![]()
PERGESERAN KESETIMBANGAN
Dunia
industri banyak sekali menerapkan sistem kesetimbangan. Prinsip utama dalam
industri adalah bagaimana cara untuk menghasilkan produk seoptimal mungkin. Hal
tersebut dapat dicapai dengan memodifikasi system kesetimbangan yang terjadi.
Konsep
tentang Kesetimbangan sudah dibahas pada Modul Sebelumnya. Menurut kalian
apakah kesetimbangan dapat mengalami pergeseran? Betul sekali bahwa
kesetimbangan kimia dapat mengalami pergeseran akibat adanya pengaruh yang
diberikan kepadanya. Pergeseran kesetimbangan kimia dapat dijelaskan oleh
beberapa hal yaitu:
1.
Azas Lee Chatelier
Azas Le Chatelier adalah azas yang digunakan untuk
memprediksi pengaruh perubahan kondisi pada kesetimbangan kimia. Azas Le
Chatelier berbunyi: “Jika suatu sistem kesetimbangan menerima suatu aksi, maka
sistem tersebut akan mengadakan suatu reaksi sehingga pengaruh aksi menjadi
sekecil- kecilnya”
Cara
sistem melakukan reaksi adalah dengan melakukan pergeseran ke kiri atau ke
kanan. Pergeseran ke kiri artinya laju reaksi ke arah kiri menjadi lebih besar
dan pergeseran ke kanan artinya laju reaksi ke kanan menjadi lebih besar.
Dalam
ilmu kimia, Azas Le Chatelier digunakan untuk memanipulasi hasil dari reaksi
bolak-balik (reversibel) bahkan bisa juga untuk memperbanyak produk reaksi.
Asas Le Chatelier hanya berlaku untuk kesetimbangan dinamis.
Perubahan
dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan kesetimbangan yang baru akibat
adanya aksi atau pengaruh dari luar itu dikenal dengan pergeseran kesetimbangan
(Martin S. Silberberg, 2000).
2.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Kesetimbangan Suatu sistem dalam
keadaan setimbang cenderung untuk mempertahankan kesetimbangannya sehingga jika
ada pengaruh dari luar, maka sistem tersebut akan berubah sedemikian rupa agar
segera diperoleh keadaan kesetimbangan lagi seperti yang diungkapkan oleh Azas
Le Chatelier. Hal- hal apa sajakah yang dapat mempengaruhi kesetimbangan?
Beberapa aksi yang dapat menyebabkan pergeseran pada sistem kesetimbangan akan
diuraikan berikut ini
a. Pengaruh Perubahan Konsentrasi
Jika
pada suatu sistem kesetimbangan, konsentrasi salah satu komponen dalam sistem
ditambah maka kesetimbangan akan bergeser dari arah penambahan itu, dan bila
salah satu komponen dikurangi maka kesetimbangan akan bergeser ke arah
pengurangan itu. Sesuai dengan azas Le Chatelier (Reaksi = - aksi), jika
konsentrasi salah satu komponen tersebut diperbesar, maka reaksi sistem akan mengurangi
komponen tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu komponen diperkecil,
maka reaksi sistem adalah menambah komponen itu.
Oleh
karena itu, pengaruh konsentrasi terhadap kesetimbangan berlangsung sebagaimana
yang digambar pada tabel 1 berikut:
Tabel
1. Pengaruh Konsentrasi terhadap Kesetimbangan
|
No |
Aksi |
Reaksi |
Cara Sistem Bereaksi |
|
1 |
Menambah konsentrasi
pereaksi |
konsentrasi pereaksi
berkurang |
Bergeser ke kanan |
|
2 |
Mengurangi konsentrasi
pereaksi |
konsentrasi pereaksi
bertambah |
Bergeser ke kiri |
|
3 |
Memperbesar konsentrasi
produk |
konsentrasi produk berkurang |
Bergeser ke kiri |
|
4 |
Mengurangi konsentrasi
produk |
konsentrasi produk bertambah |
Bergeser ke kanan |
|
5 |
Mengurangi konsentrasi total
|
konsentrasi total berkurang. |
Bergeser ke arah yang jumlah
molekulnya besar |
Contoh:
Sistem kesetimbangan pembentukan ammonia
N2(g)
+ 3H2(g) ⇌ 2NH3 (g)
Jika
konsentrasi gas nitrogen (N2) ditambah, kesetimbangan akan bergeser
ke kanan yang berakibat konsentrasi gas hidrogen berkurang dan konsentrasi
amonia bertambah.
Mengapa
bisa terjadi demikian? Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan pengertian bahwa
nilai tetapan kesetimbangan (K) selalu tetap pada suhu tetap.
Pada
sistem kesetimbangan:
N2(g)
+ 3H2(g) ⇌ 2NH3 (g)
Mempunyai
nilai tetapan kesetimbangan (dinyatakan dengan K1)

Rumusan
tetapan kesetimbangan K1 dapat dipandang sebagai angka pecahan dengan pembilang
[NH3]2 dan penyebut
[N2][H2]2. Jika K1 nilainya tetap maka
penambahan konsentrasi N2 tentu akan diimbangi dengan penurunan
konsentrasi H2 dan kenaikkan konsentrasi NH3. Kejadian
ini menjelaskan bahwa reaksi bergeser ke arah kanan.
b. Pengaruh Tekanan dan Volume
Konsentrasi
gas dalam sebuah ruang, berbanding terbalik dengan volume, sehingga penambahan
tekanan dengan cara memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi semua
komponen. Sesuai dengan azas Le Chatelier, maka sistem akan bereaksi dengan
mengurangi tekanan. Sebagaimana kalian ketahui, tekanan gas bergantung pada
jumlah molekul dan tidak bergantung pada jenis gas. Oleh karena itu, untuk
mengurangi tekanan maka reaksi mengurangi komponen tersebut. Sebaliknya, jika
konsentrasi salah satu komponen diperkecil, maka reaksi sistem adalah menambah
komponen itu.
Oleh
karena itu, pengaruh konsentrasi terhadap kesetimbangan berlangsung sebagaimana
yang digambar pada tabel 1 berikut:
Tabel
1. Pengaruh Konsentrasi terhadap Kesetimbangan
|
No |
Aksi |
Reaksi |
Cara Sistem Bereaksi |
|
1 |
Menambah konsentrasi
pereaksi |
konsentrasi pereaksi
berkurang |
Bergeser ke kanan |
|
2 |
Mengurangi konsentrasi
pereaksi |
konsentrasi pereaksi
bertambah |
Bergeser ke kiri |
|
3 |
Memperbesar konsentrasi
produk |
konsentrasi produk berkurang |
Bergeser ke kiri |
|
4 |
Mengurangi konsentrasi
produk |
konsentrasi produk bertambah |
Bergeser ke kanan |
|
5 |
Mengurangi konsentrasi total
|
konsentrasi total berkurang. |
Bergeser ke arah yang jumlah
molekulnya besar |
Contoh:
Sistem kesetimbangan pembentukan ammonia
N2(g) + 3H2(g) ⇌
2NH3 (g)
Jika
konsentrasi gas nitrogen (N2) ditambah, kesetimbangan akan bergeser ke kanan yang berakibat
konsentrasi gas hidrogen berkurang dan konsentrasi amonia bertambah.
Mengapa
bisa terjadi demikian? Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan pengertian bahwa
nilai tetapan kesetimbangan (K) selalu tetap pada suhu tetap.
Pada
sistem kesetimbangan:
N2(g) + 3H2(g) ⇌
2NH3 (g)
Mempunyai
nilai tetapan kesetimbangan (dinyatakan dengan K1)

Rumusan
tetapan kesetimbangan K1 dapat dipandang sebagai angka pecahan dengan pembilang [NH3]2 dan penyebut [N2][H2]2.
Jika K1
nilainya tetap maka penambahan konsentrasi N2 tentu akan diimbangi dengan penurunan konsentrasi H2 dan kenaikkan konsentrasi NH3. Kejadian ini menjelaskan
bahwa reaksi bergeser ke arah kanan. b. Pengaruh Tekanan dan Volume Konsentrasi
gas dalam sebuah ruang, berbanding terbalik dengan volume, sehingga penambahan
tekanan dengan cara memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi semua
komponen. Sesuai dengan azas Le Chatelier, maka sistem akan bereaksi dengan
mengurangi tekanan. Sebagaimana kalian ketahui, tekanan gas bergantung pada
jumlah molekul dan tidak bergantung pada jenis gas. Oleh karena itu, untuk
mengurangi tekanan maka reaksi
kesetimbangan
akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya molekul gas lebih kecil.
Sebaliknya, jika tekanan dikurangi dengan cara memperbesar volume, maka sistem
akan bereaksi dengan menambah tekanan dengan cara menambah jumlah molekul.
Reaksi akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya molekul gas lebih besar.
Penjelasan pengaruh penambahan tekanan (dengan cara memperkecil volume) dapat
dipelajari dari reaksi kesetimbangan berikut:
CO(g)+ 3H2(g) ⇌ CH4(g) + H2O(g)
Penambahan
tekanan menggeser kesetimbangan ke kanan, ke arah reaksi yang jumlah
koefisiennya terkecil, dan tekanan akan berkurang. Ketika volume diperkecil
maka konsentrasi (rapatan) molekul gas bertambah dan menyebabkan pertambahan
tekanan. Akibatnya, reaksi bergeser ke kanan untuk mengurangi tekanan. Satu
molekul CH4
dan 1 molekul H2O
(4 molekul pereaksi hanya menghasilkan 2 molekul produk). Dengan berkurangnya
jumlah molekul, maka tekanan akan berkurang.
Berdasarkan
uraian tersebut diatas, menunjukkan bahwa kenaikan tekanan menyebabkan reaksi
bergeser kearah total mol gas yang kecil dan sebaliknya penurunan tekanan akan
menyebabkan reaksi bergeser kearah total mol gas yang besar. Untuk reaksi yang
tidak mempunyai selisih jumlah mol gas perubahan tekanan atau volume tidak akan
menyebabkan perubahan dalam kesetimbangan.
c. Pengaruh Perubahan Suhu
Perubahan
suhu pada suatu reaksi setimbang akan menyebabkan terjadinya perubahan harga
tetapan kesetimbangan (K). Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perubahan suhu
terhadap pergeseran kesetimbangan berikut disajikan data harga K untuk berbagai
suhu dari dua reaksi kesetimbangan yang berbeda,
Tabel
2 a. Harga Kp pada Berbagai Suhu untuk Reaksi Kesetimbangan: N2(g) + 3H2(g) ⇌
2NH3 (g) ∆H = - 92 KJ

Tabel
2 b. Harga Kp pada Berbagai Suhu untuk Reaksi Kesetimbangan: H2 (g) + CO2 (g) ⇌ H2O (g) + CO (g) ∆H = + 41 kJ

Dari
kedua tabel tersebut terdapat perbedaan, pada reaksi pertama jika suhunya
diperbesar harga Kp makin kecil, ini berarti zat hasil makin sedikit yang
diakibatkan oleh terjadinya pergeseran reaksi kekiri.
Pada
reaksi kedua justru terjadi sebaliknya, yaitu bila suhunya diperbesar harga harga
Kp menjadi makin besar, berarti jumlah zat hasil makin banyak yang diakibatkan
terjadinya pergeseran kesetimbangan kekanan.
Perbedaan dari kedua reaksi tersebut adalah harga perubahan entalpinya.
Untuk reaksi pembentukan gas NH3 perubahan entalpinya negatif (Reaksi eksoterm) yang menunjukkan
bahwa reaksi kekanan melepaskan kalor. Sedangkan pada reaksi antara gas H2 dengan gas CO2 harga perubahan entalpinya
berharga positip (Reaksi endoterm) yang menunjukkan bahwa reaksi ke kanan
adalah reaksi yang menyerap kalor.
Dengan demikian pergeseran reaksi kesetimbangan akibat perubahan suhu
ditentukan oleh jenis reaksinya endoterm atau eksoterm.
Menurut
Azas Le Chatelier, jika sistem kesetimbangan dinaikan suhunya, maka akan
terjadi pergeseran kesetimbangan ke arah reaksi yang menyerap kalor (reaksi
endoterm).
3.
Penerapan Kesetimbangan dalam Industri Dalam industri yang melibatan reaksi
kesetimbangan kimia, produk reaksi yang dihasilkan tidak akan bertambah ketika
system telah mencapai kesetimbangan.
Produk
reaksi akan kembali dihasilkan, jika dilakukan perubahan konsentrasi, perubahan
suhu, atau perubahan tekanan dan volume. Pada bagian ini akan dibahas bagaimana
proses produksi amonia (NH3) dan asam sulfat (H2SO4) dalam industry.
Kedua
bahan kimia tersebut dalam proses pembuatannya melibatkan reaksi kesetimbangan,
yang merupakan tahap paling menentukan untuk kecepatan produksi.
a.
Pembuatan Amonia (NH3) dengan Proses Haber Bosh
Nitrogen
terdapat melimpah di udara, yaitu sekitar 78% volume. Walaupun demikian,
senyawa nitrogen tidak terdapat banyak di alam. Satu-satunya sumber alam yang
penting ialah NaNO3 yang disebut Sendawa Chili. Sementara itu, kebutuhan senyawa
nitrogen semakin banyak, misalnya untuk industri pupuk, dan bahan peledak. Oleh
karena itu, proses sintesis senyawa nitrogen, fiksasi nitrogen buatan,
merupakan proses industri yang sangat penting.
Metode
yang utama adalah mereaksikan nitrogen dengan hidrogen membentuk amonia.
Selanjutnya amonia dapat diubah menjadi senyawa nitrogen lain seperti asam
nitrat dan garam nitrat Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen
ditemukan oleh Fritz Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman. Sedangkan
proses industri pembuatan amonia untuk produksi secara besar-besaran ditemukan
oleh Carl Bosch, seorang insinyur kimia juga dari Jerman. Perhatikan skema
proses Haber Bosch

Gambar 1.2 Skema Proses Haber Bosch
Berdasarkan
prinsip kesetimbangan kondisi yang menguntungkan untuk ketuntasan reaksi ke
kanan (pembentukan NH3) adalah suhu rendah dan tekanan tinggi. Akan tetapi, reaksi
tersebut berlangsung sangat lambat pada suhu rendah, bahkan pada suhu 500°C
sekalipun. Dipihak lain, karena reaksi ke kanan eksoterm, penambahan suhu akan
mengurangi rendemen. Peranan katalisator dalam industri amonia juga sangat
diperlukan untuk mempercepat terjadinya kesetimbangan. Tentunya kalian masih
ingat dengan katalisator bukan? Katalisator adalah zat yang dapat mempercepat
reaksi tetapi zat tersebut tidak ikut bereaksi. Untuk mengurangi reaksi balik,
amonia yang terbentuk harus segera dipisahkan. Mula-mula campuran gas nitrogen
dan hidrogen dikompresi (dimampatkan) hingga mencapai tekanan yang diinginkan.
Kemudian campuran gas dipanaskan dalam suatu ruangan yang bersama katalisator
sehingga terbentuk amonia. Keadaan reaksi untuk menghasilkan NH3 sebanyak-banyaknya disebut
kondisi optimum. Kondisi optimum pada industri amoniak dilakukan pada suhu 600 0C dan tekanan ruangan 1000
atm. (www.kkppbumn.depkeu.go.id)
b.
Pembuatan Asam Sulfat (H2SO4)
Asam
sulfat merupakan bahan industri kimia yang penting, yaitu digunakan sebagai
bahan baku untuk pembuatan pupuk. Proses pembuatan asam sulfat (H2SO4) sebenarnya ada dua cara,
yaitu dengan proses kamar timbal dan proses kontak. Proses kamar timbal sudah
lama ditinggalkan karena kurang menguntungkan. Proses kontak menghasilkan asam
sulfat mencapai kadar 99% dan biayanya lebih murah.

Gambar 1. 3 Skema Pembuatan Asam Sulfat
Pembuatan
asam sulfat meliputi 3 tahap, yaitu sebagai berikut: 1). Pembentukan belerang
dioksida, persamaan reaksinya adalah
S(s) + O2(g) → SO2(g)
2).
Pembentukan belerang trioksida, persamaan reaksinya adalah SO2(g) + O2(g) ⇌ SO3 (g) ΔH = –196 kJ 3). Pembentukan asam sulfat,
melalui zat antara, yaitu asam pirosulfat.
Persamaan
reaksinya adalah
SO3(g) + H2SO4(aq) → H2S2O7(aq) H2S2O7(aq) + ½ O2(g) → 2H2SO4(aq)
Tahap
penting dalam proses ini adalah reaksi (2). Reaksi ini merupakan reaksi
kesetimbangan dan eksoterm. Sama seperti pada sintesis amonia, reaksi ini hanya
berlangsung baik pada suhu tinggi. Akan tetapi pada suhu tinggi justru
kesetimbangan
bergeser ke kiri. Untuk memperbanyak hasil harus memperhatikan azas Le
Chatelier. " Reaksi tersebut menyangkut tiga partikel pereaksi (2 partikel
SO2 dan 1 partikel gas O2) untuk menghasilkan 2
partikel SO3. Jadi,
perlu dilakukan pada tekanan tinggi. " Reaksi ke kanan adalah reaksi
eksoterm ( ∆H = - 196 kJ), berarti harus dilakukan pada suhu rendah.
Masalahnya, pada suhu rendah reaksinya menjadi lambat. Seperti pada pembuatan
amonia, permasalahan ini dapat diatasi dengan penambahan katalis V2O5. Dari penelitian didapat
kondisi optimum untuk proses industri asam sulfat adalah pada suhu antar 400 C
– 450 0C
dan tekanan 1 atm.
Komentar
Posting Komentar